AI
Uber Eats Gandeng Zipline Luncurkan Drone Delivery di AS, Target 1 Juta Pengiriman Harian
Uber Eats dan Zipline mengumumkan kemitraan drone delivery di AS dengan target 1 juta pengiriman harian pada 2029, sekaligus investasi Uber di Zipline.
Oleh Tim Editorial

Uber Eats resmi menggandeng Zipline untuk meluncurkan layanan pengiriman drone di Amerika Serikat. Kedua perusahaan menargetkan 1 juta pengiriman harian pada 2029, sebuah angka yang menunjukkan ambisi besar dalam industri logistik berbasis udara. Kabar ini pertama kali muncul melalui unggahan di platform X oleh akun Polymarket, namun kemudian dikonfirmasi oleh TechCrunch yang melaporkan bahwa Uber juga melakukan investasi di Zipline sebagai bagian dari kerja sama ini. Kemitraan ini menandai langkah signifikan bagi Uber Eats yang selama ini mengandalkan kendaraan roda dua dan empat untuk pengiriman makanan. Dengan hadirnya drone, Uber Eats berupaya mempercepat waktu pengiriman sekaligus mengurangi ketergantungan pada pengemudi manusia di rute rute tertentu.
Zipline, yang sudah dikenal sebagai perusahaan pengiriman drone medis dan komersial, membawa pengalaman teknis yang matang dalam operasi penerbangan otonom jarak jauh. TechCrunch melaporkan bahwa investasi Uber di Zipline merupakan bagian dari kesepakatan yang lebih luas, meskipun nilai investasi tidak diungkapkan secara rinci. Langkah ini menunjukkan keyakinan Uber terhadap potensi teknologi drone dalam jangka panjang, sekaligus memperkuat posisi Zipline sebagai pemain utama dalam ekosistem pengiriman udara. Sebelumnya, Zipline telah beroperasi di berbagai negara untuk pengiriman pasokan medis, dan kini ekspansi ke sektor makanan menjadi ujian besar bagi skalabilitas teknologinya. Target 1 juta pengiriman harian pada 2029 bukanlah angka kecil. Untuk mencapai target tersebut, Uber Eats dan Zipline harus mengatasi berbagai hambatan regulasi, infrastruktur, dan penerimaan publik.
Di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA) memiliki aturan ketat mengenai penerbangan drone di wilayah perkotaan, termasuk batasan jarak pandang dan jalur terbang. Meski demikian, FAA telah memberikan izin khusus untuk beberapa operator drone pengiriman dalam beberapa tahun terakhir, dan kemitraan ini kemungkinan akan mendorong percepatan regulasi yang lebih ramah terhadap operasi komersial skala besar. Dari sisi teknologi, Zipline menggunakan sistem drone fixed wing yang dirancang untuk terbang cepat dan efisien, dengan kemampuan meluncurkan parasut untuk menurunkan paket secara presisi. Sistem ini berbeda dengan drone multicopter yang umum digunakan oleh kompetitor seperti Wing (anak perusahaan Alphabet) atau Amazon Prime Air. Keunggulan Zipline terletak pada jangkauan dan kecepatan, yang memungkinkan pengiriman dalam radius puluhan kilometer tanpa perlu banyak titik pendaratan.
Bagi Uber Eats, integrasi drone bukanlah hal baru. Perusahaan sebelumnya telah melakukan uji coba pengiriman drone di beberapa kota, termasuk di Amerika Serikat dan Australia, namun kemitraan dengan Zipline ini merupakan langkah paling konkret untuk mengkomersialkan layanan tersebut secara luas. Dengan bergabungnya Zipline ke dalam jaringan Uber Eats, pengguna di kota kota tertentu dapat menikmati pengiriman makanan dalam hitungan menit, bukan puluhan menit seperti biasanya. Dampak industri dari kemitraan ini cukup luas. Pertama, ini menandakan bahwa persaingan di sektor drone delivery semakin memanas, dengan pemain besar seperti Uber, Alphabet, dan Amazon berlomba membangun infrastruktur pengiriman udara. Kedua, investasi Uber di Zipline menunjukkan tren venture capital yang semakin mengarah ke perusahaan logistik otonom, terutama setelah pandemi yang mengubah kebiasaan belanja dan pengiriman.
Ketiga, keberhasilan target 1 juta pengiriman harian akan menjadi tolok ukur bagi adopsi drone di sektor komersial secara global. Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Selain regulasi, faktor biaya operasional menjadi pertimbangan utama. Drone memiliki biaya perawatan dan energi yang tidak murah, dan untuk mencapai skala 1 juta pengiriman per hari, efisiensi biaya harus ditekan seminimal mungkin. Zipline mengklaim sistemnya mampu menekan biaya pengiriman hingga di bawah biaya pengiriman darat untuk jarak tertentu, namun klaim ini belum diverifikasi secara independen dalam konteks kemitraan dengan Uber Eats. Penerimaan publik juga menjadi faktor krusial. Di beberapa kota, warga sempat mengeluhkan kebisingan dan privasi akibat drone yang terbang di atas permukiman.
Uber Eats dan Zipline perlu melakukan sosialisasi yang baik agar masyarakat merasa nyaman dengan kehadiran drone di lingkungan mereka. Sebelumnya, Zipline telah berhasil beroperasi di Rwanda dan Ghana untuk pengiriman darah dan vaksin, dan pengalaman tersebut bisa menjadi modal untuk membangun kepercayaan di pasar Amerika Serikat. Dari sisi persaingan, kemitraan ini juga memberi tekanan pada layanan pengiriman tradisional seperti DoorDash dan Grubhub yang belum memiliki kemitraan drone sebesar ini. DoorDash memang telah melakukan uji coba drone di beberapa lokasi, namun belum ada komitmen sebesar yang dilakukan Uber Eats. Jika Uber Eats berhasil mencapai target 1 juta pengiriman harian, ini bisa menjadi pembeda utama dalam persaingan layanan pesan antar makanan di Amerika Serikat. Sementara itu, Zipline sendiri tengah berekspansi ke berbagai sektor, termasuk pengiriman ritel dan e commerce.
Kemitraan dengan Uber Eats akan membuka akses ke jutaan pengguna Uber Eats yang sudah ada, sekaligus memberikan data berharga tentang pola permintaan dan rute pengiriman yang efisien. Data ini dapat digunakan Zipline untuk mengoptimalkan algoritma penerbangannya dan memperluas layanan ke mitra lain di masa depan. Belum ada pengumuman resmi mengenai kota mana saja yang akan menjadi lokasi peluncuran awal layanan ini, maupun jadwal pasti dimulainya operasi. TechCrunch juga tidak menyebutkan detail mengenai jenis makanan atau restoran yang akan dilayani oleh drone. Namun, dengan target 1 juta pengiriman harian pada 2029, dapat diperkirakan bahwa Uber Eats dan Zipline akan memulai dari kota kota dengan kepadatan penduduk tinggi dan regulasi yang mendukung, seperti Dallas, San Diego, atau wilayah metropolitan lainnya yang sudah memiliki pengalaman uji coba drone.
Kemitraan ini juga berpotensi mempengaruhi kebijakan publik di tingkat federal. Dengan adanya pemain besar seperti Uber yang terlibat, tekanan untuk mempercepat izin operasi drone komersial akan semakin besar. FAA sendiri telah mengembangkan kerangka kerja untuk Beyond Visual Line of Sight (BVLOS) yang memungkinkan drone terbang di luar pandangan operator, dan kemitraan ini bisa menjadi pendorong utama bagi implementasi kerangka tersebut secara lebih luas. Dari perspektif investor, langkah Uber untuk berinvestasi di Zipline menunjukkan keyakinan terhadap pertumbuhan jangka panjang bisnis drone delivery. Meskipun nilai investasi tidak diungkapkan, partisipasi Uber dalam pendanaan Zipline akan memperkuat posisi Zipline dalam menghadapi kompetisi dengan perusahaan seperti Wing dan Amazon. Ini juga bisa menjadi sinyal bagi investor lain bahwa sektor drone delivery dianggap layak untuk mendapatkan modal besar.
Ke depannya, keberhasilan kemitraan ini akan sangat bergantung pada kemampuan kedua perusahaan untuk mengeksekusi rencana mereka di tengah tantangan teknis dan regulasi. Jika target 1 juta pengiriman harian tercapai, ini akan menjadi tonggak bersejarah dalam industri logistik dan bisa membuka jalan bagi adopsi drone di berbagai sektor lain, mulai dari pengiriman obat hingga barang ritel. Namun, jika gagal, ini akan menjadi pelajaran berharga tentang batas batas teknologi drone dalam skala komersial. Saat ini, Uber Eats dan Zipline belum merilis pernyataan resmi lebih lanjut mengenai detail operasional atau jadwal peluncuran. Publik dan pelaku industri menunggu langkah konkret berikutnya dari kedua perusahaan, terutama dalam hal perizinan dan pemilihan kota pertama. Yang jelas, kemitraan ini telah mengubah peta persaingan di industri pengiriman makanan dan logistik udara di Amerika Serikat.