Technology
Polymarket Perusahaan AS Alami Lonjakan Serangan Siber AI dan Ransomware pada 2026
Polymarket melaporkan lonjakan serangan siber AI dan ransomware pada perusahaan AS, didukung data IBM dan CrowdStrike.
Oleh Tim Editorial

Polymarket, platform pasar prediksi berbasis blockchain, mengumumkan melalui akun X resminya bahwa perusahaan perusahaan di Amerika Serikat mengalami peningkatan signifikan dalam insiden serangan siber yang memanfaatkan AI dan ransomware. Unggahan tersebut tidak menyertakan angka spesifik atau rincian teknis lebih lanjut, tetapi pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang keamanan siber yang didorong oleh AI. Data dari laporan IBM Cost of a Data Breach Report yang dirilis pada 30 Juli 2025 menunjukkan bahwa adopsi AI oleh organisasi jauh melampaui langkah langkah keamanan dan tata kelola AI. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 13% organisasi melaporkan pelanggaran terhadap model atau aplikasi AI, dan 97% dari organisasi yang mengalami pelanggaran tersebut mengaku tidak memiliki kontrol akses AI yang memadai.
Temuan ini mengindikasikan bahwa kesenjangan antara penerapan AI dan perlindungannya semakin melebar, menciptakan celah yang dapat dieksploitasi oleh penyerang. Sementara itu, laporan dari Foresiet yang berjudul "The AI Inversion: 2026's Most Dangerous Cyber Attacks" mencatat bahwa serangan yang didukung AI meningkat sebesar 89% pada tahun ini. Laporan tersebut mendokumentasikan sembilan insiden terverifikasi pada tahun 2026, termasuk pelanggaran otonom dan kebocoran data, yang menunjukkan bahwa teknik serangan semakin canggih dan sulit dideteksi oleh sistem keamanan tradisional. CrowdStrike, perusahaan keamanan siber terkemuka, dalam laporan ransomware tahun 2025 nya menemukan bahwa 76% organisasi tidak dapat menandingi kecepatan serangan AI. Laporan tersebut menekankan bahwa pertahanan lama gagal menghadapi ancaman yang terus berevolusi, dan merekomendasikan adopsi strategi keamanan yang lebih adaptif dan berbasis AI untuk melawan serangan yang juga menggunakan AI.
Meskipun unggahan Polymarket tidak memberikan konteks lebih lanjut, data dari IBM, Foresiet, dan CrowdStrike memperkuat klaim bahwa perusahaan AS berada di garis depan gelombang serangan siber AI. Ketiga laporan tersebut, yang diterbitkan antara tahun 2025 dan 2026, secara konsisten menunjukkan bahwa adopsi AI yang cepat tanpa diimbangi dengan langkah keamanan yang memadai telah menciptakan kerentanan yang meluas. Lonjakan serangan ini berpotensi mengganggu operasi bisnis, menyebabkan kebocoran data sensitif, dan meningkatkan biaya pemulihan. Laporan IBM mencatat bahwa biaya rata rata pelanggaran data terus meningkat, meskipun angka spesifik untuk tahun 2026 belum dirilis. Namun, tren dari tahun tahun sebelumnya menunjukkan bahwa biaya tersebut dapat mencapai jutaan dolar per insiden, terutama ketika melibatkan sistem AI yang kompleks. Respons dari perusahaan AS terhadap ancaman ini bervariasi.
Beberapa perusahaan mulai menginvestasikan lebih banyak sumber daya dalam keamanan siber berbasis AI, sementara yang lain masih bergulat dengan keterbatasan anggaran dan kurangnya tenaga ahli. CrowdStrike merekomendasikan agar organisasi mengadopsi pendekatan "zero trust" dan menggunakan alat deteksi yang didukung AI untuk mengimbangi kecepatan serangan. Pemerintah AS juga telah mengambil langkah langkah untuk mengatasi ancaman ini. Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) telah mengeluarkan pedoman baru untuk keamanan AI, meskipun implementasinya masih bersifat sukarela bagi sektor swasta. Beberapa anggota Kongres telah mendorong undang undang yang mewajibkan perusahaan untuk melaporkan insiden siber yang melibatkan AI, namun belum ada undang undang yang disahkan. Di sisi lain, industri asuransi siber mulai menyesuaikan polis mereka untuk mencakup kerugian akibat serangan AI, meskipun premi diperkirakan akan naik seiring meningkatnya frekuensi dan kompleksitas serangan.
Perusahaan yang tidak memiliki kontrol akses AI yang memadai, seperti yang disebutkan dalam laporan IBM, mungkin menghadapi kesulitan mendapatkan perlindungan asuransi yang terjangkau. Polymarket sendiri dikenal sebagai platform yang memprediksi berbagai peristiwa global, termasuk yang berkaitan dengan teknologi dan keamanan siber. Unggahan mereka kali ini berfungsi sebagai radar awal yang menandakan meningkatnya perhatian publik terhadap ancaman siber AI. Namun, karena Polymarket bukan sumber berita primer, klaim ini perlu diverifikasi lebih lanjut oleh lembaga independen atau media arus utama. Ke depannya, para ahli memperkirakan bahwa serangan siber AI akan terus meningkat seiring dengan semakin mudahnya akses ke alat AI generatif. Perusahaan yang tidak segera memperkuat pertahanan mereka berisiko menjadi korban berikutnya.
Laporan dari Foresiet dan CrowdStrike menekankan perlunya kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk mengembangkan standar keamanan AI yang lebih ketat dan berbagi intelijen ancaman secara real time. Dengan data yang ada, jelas bahwa lonjakan serangan siber AI dan ransomware pada perusahaan AS bukanlah sekadar isapan jempol, melainkan ancaman nyata yang didukung oleh bukti dari berbagai sumber terpercaya. Langkah mitigasi yang cepat dan komprehensif menjadi kunci untuk mengurangi dampak dari gelombang serangan ini.