AI

Peneliti Alignment OpenAI Hengkang untuk Bangun AI Pembaca Pikiran Non-Invasif

Peneliti alignment OpenAI, Naomi Bashkansky, hengkang untuk membangun AI yang dapat membaca pikiran manusia secara non-invasif.

Oleh Tim Editorial

Peneliti Alignment OpenAI Hengkang untuk Bangun AI Pembaca Pikiran Non-Invasif
img-blog.csdnimg.cn

Naomi Bashkansky, seorang peneliti yang sebelumnya bekerja di divisi alignment OpenAI, mengumumkan bahwa ia meninggalkan perusahaan tersebut untuk membangun AI yang mampu membaca pikiran manusia secara non invasif. Pengumuman ini pertama kali muncul melalui unggahan di akun X milik Polymarket, yang mengutip pernyataan Bashkansky, dan kemudian diperkuat oleh sebuah esai pribadi di situsnya yang berjudul "Why I'm leaving OpenAI to build telepathy". Kepergian ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pada isu keselamatan AI (AI alignment) dan arah penelitian yang diambil OpenAI. Bashkansky, yang fokus pada penyelarasan perilaku AI dengan nilai nilai manusia, kini beralih ke pengembangan teknologi telepati berbasis AI, sebuah bidang yang berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin dan satu sama lain.

Dalam esainya, Bashkansky menjelaskan motivasinya untuk membangun teknologi yang dapat membaca pikiran secara non invasif. Ia menekankan pentingnya pendekatan ini dibandingkan metode invasif yang memerlukan implantasi perangkat di otak. Teknologi non invasif, menurutnya, dapat membuka jalan bagi komunikasi yang lebih alami dan dapat diakses lebih luas, tanpa risiko bedah atau efek samping jangka panjang. Langkah Bashkansky ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Sebelumnya, sejumlah peneliti kunci OpenAI, termasuk Ilya Sutskever dan Jan Leike, telah meninggalkan perusahaan, memicu pertanyaan tentang masa depan penelitian keselamatan AI di dalam organisasi tersebut. Jan Leike, yang pernah memimpin tim alignment, sebelumnya menjelaskan upaya OpenAI untuk melindungi umat manusia dari AI superintelligent, sebagaimana dilaporkan oleh IEEE Spectrum.

Kepergian para tokoh ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas di dalam OpenAI, yang semakin fokus pada pengembangan produk komersial. Bashkansky sendiri bukan nama besar di ranah publik seperti Sutskever atau Leike, namun kepergiannya tetap signifikan karena ia mewakili gelombang peneliti yang memilih untuk mengejar visi mereka di luar struktur perusahaan besar. Fokusnya pada telepati non invasif menunjukkan bahwa sebagian komunitas peneliti AI melihat potensi besar dalam antarmuka otak komputer (brain computer interface) sebagai evolusi berikutnya dari interaksi manusia mesin. Dari sisi industri, langkah ini dapat dilihat sebagai sinyal bahwa penelitian AI tidak hanya berpusat pada model bahasa besar atau kecerdasan umum, tetapi juga pada aplikasi yang lebih personal dan mendalam seperti membaca pikiran.

Teknologi semacam ini, jika berhasil dikembangkan, dapat memiliki implikasi luas bagi bidang kesehatan, komunikasi, dan bahkan keamanan siber. Namun, penting untuk dicatat bahwa klaim tentang kemampuan membaca pikiran secara non invasif masih bersifat konseptual dan belum ada produk nyata yang diumumkan. Polymarket, sebagai platform prediksi pasar, hanya menjadi perantara informasi dalam pengumuman ini. Peristiwa utama yang perlu dicermati adalah keputusan Bashkansky untuk meninggalkan OpenAI dan mendirikan usaha baru. Tidak ada detail lebih lanjut mengenai pendanaan, mitra, atau timeline pengembangan teknologi tersebut dalam sumber yang tersedia. Konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa perpindahan peneliti dari OpenAI ke proyek proyek independen bukanlah hal baru. Sutskever, misalnya, setelah meninggalkan OpenAI, mendirikan perusahaan sendiri yang fokus pada keselamatan AI.

Pola ini menunjukkan bahwa meskipun OpenAI menjadi pusat pengembangan AI terdepan, sejumlah talenta terbaiknya memilih untuk mengejar penelitian yang lebih berorientasi pada misi tertentu, termasuk yang berisiko tinggi seperti telepati. Bashkansky, dalam esainya, tidak memberikan rincian teknis tentang bagaimana ia akan membangun AI pembaca pikiran non invasif. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan ini akan memanfaatkan sinyal otak yang dapat dideteksi dari luar tengkorak, seperti electroencephalography (EEG) atau functional near infrared spectroscopy (fNIRS), yang telah digunakan dalam penelitian antarmuka otak komputer selama bertahun tahun. Meskipun demikian, klaim ini tidak dapat diverifikasi dari sumber yang ada. Dampak jangka panjang dari kepergian Bashkansky terhadap OpenAI belum dapat dipastikan. Namun, secara simbolis, ini menambah daftar panjang peneliti yang meninggalkan perusahaan karena perbedaan visi atau keinginan untuk mengeksplorasi area yang lebih niche.

Bagi industri AI, fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem penelitian semakin terfragmentasi, dengan para ahli menyebar ke berbagai arah, dari keselamatan AI hingga aplikasi yang lebih eksperimental seperti telepati. Belum ada tanggapan resmi dari OpenAI mengenai kepergian Bashkansky. Sementara itu, Bashkansky tampaknya akan memulai perjalanan barunya dengan fokus pada pengembangan teknologi yang dapat merevolusi cara kita berkomunikasi. Langkah ini, jika berhasil, dapat menempatkannya di garis depan gelombang baru inovasi AI yang berpusat pada manusia. Para pengamat industri akan mencermati perkembangan berikutnya dari proyek telepati Bashkansky, terutama apakah ia akan berhasil menarik pendanaan dan membangun tim yang mampu mewujudkan visinya.

Sementara itu, kepergiannya menjadi pengingat bahwa dunia penelitian AI tidak pernah statis, dan para peneliti terus mendorong batas batas yang mungkin, baik di dalam maupun di luar perusahaan besar.

Sumber dan referensi