AI
Model AI China Kuasai 60% Penggunaan Token AS di OpenRouter, Sulitkan Pembatasan
Model AI China kuasai 60% penggunaan token perusahaan AS di OpenRouter, mempersulit pembatasan tanpa mengganggu pengguna dan bisnis AS.
Oleh Tim Editorial

Laporan dari Nectar Gan di Bloomberg mengungkapkan bahwa model AI China menyumbang sekitar 60% dari total token yang digunakan oleh perusahaan AS di OpenRouter, sebuah platform yang menyediakan akses ke berbagai model AI dari berbagai pengembang. Angka ini menunjukkan ketergantungan yang signifikan dari ekosistem startup dan perusahaan teknologi AS terhadap model model buatan China, terutama dari pengembang seperti DeepSeek dan Z.ai. Dominasi ini menimbulkan dilema bagi pembuat kebijakan di Washington. Di satu sisi, ada kekhawatiran keamanan nasional dan persaingan teknologi yang mendorong pembatasan. Di sisi lain, memberlakukan pembatasan secara drastis berisiko mengganggu operasional ribuan perusahaan AS yang telah mengandalkan model model tersebut untuk efisiensi biaya dan kinerja.
Data dari OpenRouter menunjukkan bahwa pangsa pasar model AI China melonjak drastis dari hanya sekitar 1% pada tahun 2024 menjadi lebih dari 60% pada pertengahan 2026. Lonjakan ini didorong oleh faktor harga dan kinerja. Model model seperti DeepSeek dan Zhipu AI dinilai mampu menyamai kemampuan model frontier AS seperti GPT 4o atau Claude 3.5, namun dengan biaya yang jauh lebih rendah. Laporan CNBC pada 7 Juli 2026 mencatat bahwa rilis model terbaru dari perusahaan China, termasuk DeepSeek dan Z.ai, dipandang sangat kompetitif dibandingkan dengan sistem frontier AS terkemuka. Hal ini terjadi di tengah melonjaknya biaya penggunaan model dari OpenAI dan Anthropic, yang mendorong banyak perusahaan AS, terutama startup, untuk beralih ke alternatif yang lebih murah.
OpenRouter sendiri berfungsi sebagai semacam pasar atau API gateway yang memungkinkan pengembang membandingkan dan memilih model AI dari berbagai penyedia. Platform ini populer di kalangan startup karena fleksibilitasnya. Dengan model China yang menawarkan harga per token yang sangat kompetitif, banyak pengembang AS secara organik beralih ke model tersebut untuk menjaga margin bisnis mereka. Fenomena ini memiliki implikasi geopolitik yang kompleks. Washington selama beberapa tahun terakhir telah berupaya membatasi akses China ke teknologi chip canggih buatan AS, dengan asumsi bahwa hal itu akan memperlambat kemajuan AI China. Namun, data OpenRouter justru menunjukkan bahwa model AI China tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar AS sendiri. Para analis kebijakan yang dikutip dalam laporan Bloomberg menyoroti bahwa situasi ini menempatkan regulator AS dalam posisi sulit.
Jika pembatasan diberlakukan secara agresif, perusahaan AS yang sudah terintegrasi dengan model China akan terkena dampak langsung. Gangguan pada layanan AI dapat mempengaruhi produktivitas dan daya saing bisnis bisnis tersebut. Di sisi lain, membiarkan situasi ini berlanjut tanpa pengawasan juga dianggap berisiko dari segi keamanan data dan potensi pengaruh asing. Pemerintah AS kini dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan kebutuhan industri teknologi domestik yang haus akan solusi AI yang terjangkau. Perusahaan perusahaan AI China seperti DeepSeek dan Zhipu AI terus meningkatkan kemampuan model mereka. Beberapa model terbaru mereka bahkan tercatat mampu mengungguli model AS dalam sejumlah tolok ukur (benchmark) tertentu, sambil tetap menawarkan harga yang lebih murah. Hal ini menekan perusahaan AI AS untuk terus berinovasi dan menurunkan harga.
Dari perspektif industri, persaingan harga ini telah memicu perang harga di pasar API AI global. Startup startup AS yang sebelumnya bergantung pada OpenAI atau Anthropic kini memiliki lebih banyak pilihan. Namun, ketergantungan yang meningkat pada infrastruktur AI China juga menimbulkan kekhawatiran baru tentang rantai pasok teknologi dan potensi kerentanan. Laporan dari OpenRouter sendiri tidak memberikan rincian tentang jenis token atau aplikasi spesifik yang menggunakan model China. Namun, secara umum, token adalah unit dasar yang digunakan model AI untuk memproses teks. Semakin banyak token yang diproses, semakin besar beban kerja dan biaya yang dikeluarkan. Dominasi 60% menunjukkan bahwa volume pemrosesan data oleh perusahaan AS melalui model China sangat besar.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih atau badan regulator AS mengenai langkah spesifik yang akan diambil menanggapi data ini. Diskusi di kalangan pembuat kebijakan masih berlangsung, dengan fokus pada bagaimana merancang aturan yang dapat melindungi kepentingan nasional tanpa merugikan inovasi dan bisnis domestik. Perkembangan ini juga menjadi sorotan bagi industri teknologi global. Jika tren ini berlanjut, model AI China tidak hanya akan mendominasi pasar AS, tetapi juga berpotensi menjadi standar de facto di banyak negara lain yang mencari solusi AI yang terjangkau. Hal ini dapat mengubah peta persaingan AI global secara fundamental.