AI
Hakim Sahkan Penyelesaian Hak Cipta Anthropic Rp24 Triliun Hanya 350 Penulis Keluar
Hakim AS menyetujui penyelesaian hak cipta Anthropic senilai style="background-color: #ffffff;",5 miliar dengan hanya 350 penulis yang memilih keluar dari kesepakatan tersebut.
Oleh Tim Editorial

Keputusan ini mengakhiri salah satu gugatan hak cipta terbesar yang melibatkan perusahaan kecerdasan buatan (AI). Gugatan diajukan oleh sekelompok penulis yang menuduh Anthropic menggunakan karya mereka secara ilegal untuk melatih model AI tanpa izin atau kompensasi. Penyelesaian senilai style="background-color: #ffffff;",5 miliar ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah sengketa hak cipta AI. Jumlah tersebut akan dibayarkan kepada penulis yang karyanya digunakan dalam pelatihan model bahasa besar (LLM) milik Anthropic, termasuk Claude. Menurut laporan Ars Technica dan TechCrunch yang dikonfirmasi pada 20 Juli 2026, hanya 350 penulis yang memilih untuk keluar dari penyelesaian tersebut. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan total penulis yang tercakup dalam gugatan class action.
Anthropic, perusahaan AI yang didirikan oleh mantan eksekutif OpenAI, menghadapi gugatan class action pada tahun 2024 yang menuduh perusahaan menggunakan buku, artikel, dan karya tulis lainnya tanpa izin untuk melatih model AI mereka. Gugatan tersebut diajukan atas nama ribuan penulis. Penyelesaian awal diumumkan pada September 2025, ketika Anthropic setuju untuk membayar style="background-color: #ffffff;",5 miliar untuk menyelesaikan klaim tersebut. Kesepakatan itu kemudian memerlukan persetujuan pengadilan, yang akhirnya diberikan pada Juli 2026. Hakim yang menangani kasus ini menyetujui penyelesaian tersebut setelah mendengar argumen dari kedua belah pihak. Beberapa penulis yang menolak penyelesaian mengajukan keberatan pada menit menit terakhir, tetapi jumlahnya terbatas pada 350 orang. Penyelesaian ini mencakup kompensasi untuk penulis yang karyanya digunakan dalam pelatihan model AI Anthropic.
Namun, rincian pasti tentang bagaimana dana akan didistribusikan belum diungkapkan secara publik. Meskipun penyelesaian ini mengakhiri satu gugatan, TechCrunch mencatat bahwa keputusan ini tidak menyelesaikan masalah yang lebih luas tentang penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI. Banyak perusahaan AI lain masih menghadapi gugatan serupa. OpenAI, Google, Meta, dan perusahaan AI lainnya juga menghadapi tuntutan hukum dari penulis, seniman, dan pemilik konten yang mengklaim bahwa karya mereka digunakan tanpa izin untuk melatih model AI generatif. Kasus Anthropic menjadi preseden penting karena merupakan salah satu penyelesaian pertama yang mencapai tahap persetujuan pengadilan. Nilai penyelesaian yang besar menunjukkan bahwa perusahaan AI bersedia membayar mahal untuk menyelesaikan sengketa hak cipta.
Namun, para kritikus berpendapat bahwa penyelesaian ini tidak cukup untuk mengatasi masalah mendasar tentang bagaimana data pelatihan AI diperoleh. Mereka khawatir bahwa penyelesaian semacam ini justru memberikan legitimasi pada praktik penggunaan data tanpa izin. Di sisi lain, Anthropic menyambut baik keputusan pengadilan. Perusahaan menyatakan bahwa penyelesaian ini memungkinkan mereka untuk fokus pada pengembangan AI yang aman dan bermanfaat tanpa gangguan litigasi. Para penulis yang memilih untuk keluar dari penyelesaian dapat mengajukan gugatan sendiri terhadap Anthropic. Namun, dengan hanya 350 penulis yang keluar, dampak hukum tambahan terhadap Anthropic diperkirakan terbatas. Penyelesaian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang model bisnis perusahaan AI. Jika perusahaan harus membayar royalti untuk setiap karya yang digunakan dalam pelatihan, biaya pengembangan model AI bisa meningkat secara signifikan.
Beberapa analis memperkirakan bahwa penyelesaian Anthropic dapat menjadi tolok ukur untuk gugatan serupa di masa depan. Perusahaan AI lain mungkin harus menyisihkan dana yang besar untuk menyelesaikan klaim hak cipta. Namun, belum jelas apakah penyelesaian ini akan mendorong perubahan dalam cara perusahaan AI memperoleh data pelatihan. Beberapa perusahaan telah mulai menandatangani perjanjian lisensi dengan penerbit dan pemilik konten. Anthropic sendiri telah mengambil langkah langkah untuk mengatasi masalah hak cipta, termasuk dengan menawarkan kompensasi kepada penulis yang karyanya digunakan. Perusahaan juga telah mengembangkan kebijakan data yang lebih ketat. Keputusan pengadilan ini menandai babak baru dalam hubungan antara industri AI dan pemilik konten. Meskipun satu kasus telah diselesaikan, perdebatan tentang penggunaan karya berhak cipta untuk pelatihan AI masih jauh dari selesai.
TechCrunch melaporkan bahwa penyelesaian ini disetujui pada 20 Juli 2026, setelah proses persidangan yang panjang. Hakim memutuskan bahwa penyelesaian tersebut adil, wajar, dan memadai bagi semua pihak yang terlibat. Dengan hanya 350 penulis yang keluar, mayoritas penulis yang tercakup dalam gugatan akan menerima kompensasi dari dana style="background-color: #ffffff;",5 miliar. Jumlah pasti yang akan diterima setiap penulis belum diumumkan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa industri AI masih bergulat dengan masalah hukum yang kompleks seputar hak cipta. Regulator dan pengadilan di berbagai negara masih berusaha menentukan batas batas penggunaan data untuk pelatihan AI. Sementara itu, Anthropic dapat melanjutkan operasinya tanpa beban gugatan class action ini. Perusahaan diperkirakan akan terus mengembangkan model AI baru sambil mematuhi ketentuan penyelesaian.