Fintech

Bitcoin Slips as US Inflation Fails to Spark Gains, ETFs See August First Two-Day Drawdown

Bitcoin turun setelah data inflasi AS tidak memicu kenaikan, ETF spot bitcoin mencatat outflow dua hari berturut-turut pertama sejak akhir Juli.

Oleh Tim Editorial

Bitcoin Slips as US Inflation Fails to Spark Gains, ETFs See August First Two-Day Drawdown
coindesk.com

Bitcoin kembali ke zona merah pada Jumat, 14 Agustus 2026, setelah data inflasi Amerika Serikat yang dinanti pasar tidak mampu mendorong kenaikan harga. Mata uang kripto terbesar itu justru kehilangan sebagian besar keuntungan yang sempat diraih pada pekan sebelumnya, sementara altcoin kesulitan menemukan arah pergerakan yang jelas. Menurut laporan CoinDesk, spot bitcoin exchange traded fund (ETF) mencatat arus keluar (outflow) dua hari berturut turut untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Kondisi ini menandai perubahan sentimen investor institusional yang sebelumnya agresif mengakumulasi aset kripto melalui instrumen pasar modal. Data inflasi AS yang dirilis pekan ini menjadi katalis utama yang ditunggu pelaku pasar. Namun, respons pasar justru berbanding terbalik dengan ekspektasi sebagian analis yang memperkirakan data tersebut akan memicu aksi beli.

Alih alih menguat, bitcoin malah terkoreksi dan menarik dana keluar dari produk ETF. Arus keluar dua hari beruntun ini menjadi sinyal penting karena sejak akhir Juli, ETF spot bitcoin konsisten mencatat aliran dana masuk. Pembalikan arah ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil sikap hati hati di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan pergerakan harga yang volatil. CoinDesk melaporkan bahwa pekan sebelumnya bitcoin sempat mencatatkan penguatan yang cukup signifikan. Namun, seluruh keuntungan tersebut tergerus dalam dua sesi perdagangan terakhir, mencerminkan rapuhnya momentum bullish di pasar kripto saat ini. Altcoin, yang biasanya bergerak mengikuti arah bitcoin, juga gagal menunjukkan kinerja yang meyakinkan. Sebagian besar aset kripto alternatif tercatat stagnan atau melemah, menandakan tidak ada rotasi modal dari bitcoin ke aset lain, melainkan penarikan dana secara menyeluruh dari pasar.

Dari sisi makro, data inflasi AS yang dirilis pekan ini sebenarnya berada di kisaran yang diprediksi pasar. Namun, pelaku pasar tampaknya membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mendorong alokasi aset berisiko seperti bitcoin. Kegagalan inflasi memicu kenaikan menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan Federal Reserve dan likuiditas global masih menjadi penentu utama. ETF spot bitcoin sendiri telah menjadi salah satu pendorong utama masuknya modal institusional ke pasar kripto sejak diluncurkan. Arus masuk yang konsisten selama berminggu minggu sempat mendorong optimisme bahwa bitcoin akan menembus level resistensi penting. Namun, outflow dua hari ini mengingatkan bahwa aliran dana ETF bisa berbalik arah dengan cepat. Beberapa analis pasar yang dikutip dalam laporan tersebut menilai bahwa koreksi ini merupakan bagian dari siklus normal setelah reli yang cukup panjang.

Namun, mereka juga mengingatkan bahwa jika outflow berlanjut dalam beberapa hari ke depan, tekanan jual bisa semakin dalam. Di sisi lain, data on chain menunjukkan bahwa aktivitas paus (whale) atau pemegang besar bitcoin masih relatif tenang, tidak ada pergerakan signifikan yang mengindikasikan aksi jual besar besaran. Hal ini memberikan sedikit harapan bahwa koreksi saat ini masih bersifat sementara. Meski demikian, sentimen pasar secara keseluruhan tetap rapuh. Ketidakpastian mengenai arah suku bunga AS, perlambatan ekonomi global, dan risiko regulasi masih membayangi pergerakan aset kripto. Investor institusional cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali menambah eksposur mereka. CoinDesk mencatat bahwa volume perdagangan bitcoin di bursa utama juga mengalami penurunan selama periode koreksi ini. Volume yang tipis sering kali memperbesar volatilitas harga, sehingga pergerakan turun bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Sementara itu, pasar derivatif kripto menunjukkan bahwa tingkat pendanaan (funding rate) untuk kontrak berjangka bitcoin telah turun ke level netral. Ini mengindikasikan bahwa posisi long yang sebelumnya dominan mulai berkurang, mengurangi risiko likuidasi berantai jika harga terus melemah. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS berikutnya serta pernyataan pejabat Federal Reserve untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter. Jika inflasi menunjukkan tanda tanda mereda secara konsisten, bukan tidak mungkin bitcoin kembali menarik minat investor. Namun, untuk saat ini, pasar masih dalam mode konsolidasi. Bitcoin diperdagangkan di kisaran harga yang lebih rendah dibandingkan pekan lalu, dan ETF spot bitcoin harus berjuang untuk menghentikan arus keluar agar kepercayaan investor pulih. Laporan CoinDesk juga menyoroti bahwa kinerja bitcoin yang lesu terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS.

Penguatan dolar biasanya menjadi tekanan tersendiri bagi aset berisiko, termasuk kripto, karena mengurangi daya tarik aset non yielding. Di sisi lain, pasar saham AS justru menunjukkan ketahanan, dengan indeks utama masih berada di dekat level tertinggi. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa investor saat ini lebih memilih aset tradisional dibandingkan kripto dalam menghadapi ketidakpastian makro. Meskipun demikian, sejumlah pendukung jangka panjang bitcoin tetap optimistis. Mereka berargumen bahwa adopsi institusional yang terus meningkat, terbatasnya pasokan, dan potensi bitcoin sebagai lindung nilai inflasi akan mendukung harga dalam jangka panjang. Namun, argumen tersebut belum cukup kuat untuk menghentikan aksi jual jangka pendek. Selama data makro dan kebijakan moneter belum memberikan sinyal yang jelas, volatilitas bitcoin diperkirakan akan tetap tinggi.

Untuk pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve dan data penjualan ritel AS. Kedua data tersebut bisa menjadi pemicu pergerakan berikutnya bagi bitcoin dan aset kripto lainnya. Jika outflow ETF berlanjut, bukan tidak mungkin bitcoin akan menguji level support terdekatnya. Sebaliknya, jika arus dana kembali masuk, reli bisa segera berlanjut. Pasar saat ini berada di persimpangan, menunggu katalis berikutnya untuk menentukan arah. Sementara itu, investor ritel disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang tinggi dan tidak mengambil keputusan berdasarkan pergerakan harga jangka pendek semata. Fundamental jangka panjang bitcoin masih menjadi perdebatan, tetapi dalam jangka pendek, sentimen pasar dan faktor makro tetap menjadi penggerak utama.

CoinDesk melaporkan bahwa beberapa analis melihat level harga saat ini sebagai area yang menarik untuk akumulasi jangka panjang, tetapi mereka juga mengakui bahwa risiko penurunan lebih lanjut masih ada. Kombinasi antara ketidakpastian makro dan aliran dana yang keluar membuat prospek jangka pendek bitcoin masih suram. Di tengah kondisi ini, pasar opsi bitcoin menunjukkan bahwa trader memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi hingga akhir bulan. Ini berarti pergerakan harga yang tajam, baik naik maupun turun, masih mungkin terjadi dalam waktu dekat. Secara keseluruhan, pekan ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto tidak bergerak dalam ruang hampa. Data ekonomi makro, kebijakan bank sentral, dan aliran dana institusional tetap menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga bitcoin.

Koreksi yang terjadi saat ini, meskipun menyakitkan bagi investor jangka pendek, bisa menjadi bagian dari proses penemuan harga yang sehat. Namun, hanya waktu yang akan membuktikan apakah bitcoin mampu bangkit kembali atau justru melanjutkan tren penurunan. Untuk saat ini, pelaku pasar akan terus memantau pergerakan ETF spot bitcoin sebagai indikator utama sentimen institusional. Dua hari outflow mungkin belum menjadi tren, tetapi jika berlanjut, bisa menjadi sinyal peringatan dini bagi pasar kripto secara keseluruhan.

Sumber dan referensi