Fintech
AS Larang Impor Robot Asing, Unitree China Terdampak Langsung
FCC mengumumkan larangan impor robot canggih dan power inverter asing yang menargetkan China, berdampak pada produsen robot humanoid seperti Unitree.
Oleh Tim Editorial

Larangan yang dilaporkan pertama kali oleh Reuters ini menargetkan perangkat robotik bergerak, termasuk robot humanoid dan robot berkaki empat, meskipun FCC menegaskan kebijakan tersebut tidak terbatas pada robot yang berjalan. FCC menyatakan langkah ini tidak ditujukan secara spesifik kepada negara tertentu, namun dampaknya akan sangat terasa di China yang tengah gencar memproduksi robot humanoid. Kebijakan ini mencakup larangan impor untuk perangkat robotik canggih dan power inverter yang diproduksi di luar negeri. Power inverter merupakan komponen elektronik yang mengubah arus searah (DC) menjadi arus bolak balik (AC), dan banyak digunakan dalam berbagai perangkat elektronik termasuk sistem robotik. Dengan dimasukkannya power inverter dalam larangan, rantai pasok komponen elektronik untuk robotik juga ikut terdampak.
Unitree, perusahaan robotik asal China yang dikenal dengan robot humanoid dan quadrupednya, menjadi salah satu pihak yang paling mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. Unitree telah merilis beberapa model robot yang viral di media sosial, termasuk robot yang menari mengikuti lagu Michael Jackson, berpartisipasi dalam pertarungan MMA, dan tampil dalam berbagai video hiburan lainnya. Robot robot tersebut termasuk dalam kategori perangkat robotik bergerak yang kini dilarang diimpor ke AS. FCC menjelaskan bahwa larangan ini mencakup robot yang dapat bergerak secara mobile, baik yang berjalan dengan dua kaki (humanoid) maupun empat kaki (quadruped). Definisi ini secara langsung mencakup produk produk unggulan Unitree seperti seri robot humanoid H1 dan robot quadruped B2 yang telah dipasarkan secara global.
Meskipun FCC tidak menyebutkan nama perusahaan tertentu, spesifikasi teknis yang disebutkan dalam pengumuman tersebut sangat sesuai dengan karakteristik produk Unitree. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan teknologi antara AS dan China, terutama di bidang robotika dan kecerdasan buatan. China telah menjadikan pengembangan robot humanoid sebagai prioritas nasional, dengan berbagai perusahaan seperti Unitree, Xiaomi, dan UBTech berlomba lomba menghadirkan robot humanoid yang dapat digunakan di sektor manufaktur, layanan, dan hiburan. Larangan impor ini berpotensi menghambat ekspansi pasar perusahaan perusahaan tersebut di Amerika Serikat. Dampak dari larangan ini tidak hanya dirasakan oleh produsen robot, tetapi juga oleh konsumen dan bisnis di AS yang telah menggunakan atau berencana mengadopsi robot buatan China.
Robot humanoid dan quadruped buatan Unitree telah digunakan di berbagai institusi riset, universitas, dan perusahaan teknologi di AS untuk pengembangan aplikasi robotika. Dengan adanya larangan ini, proyek proyek yang bergantung pada pasokan robot dari China harus mencari alternatif dari produsen lain atau mengembangkan solusi domestik. FCC menyatakan bahwa kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan keamanan nasional, meskipun detail spesifik mengenai ancaman yang dimaksud tidak dijelaskan secara rinci dalam pengumuman tersebut. Langkah ini sejalan dengan serangkaian kebijakan pemerintah AS sebelumnya yang membatasi akses teknologi asing, terutama dari China, di berbagai sektor termasuk telekomunikasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan. Bagi industri robotik global, larangan ini menandai eskalasi baru dalam perang teknologi antara AS dan China.
Robot humanoid dan quadruped merupakan segmen yang sedang tumbuh pesat, dengan potensi aplikasi di bidang logistik, manufaktur, perawatan kesehatan, dan eksplorasi. Dengan ditutupnya akses pasar AS bagi produsen China, persaingan di segmen ini kemungkinan akan semakin terpolarisasi antara perusahaan perusahaan AS dan sekutunya melawan perusahaan China. Unitree belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait larangan ini. Namun, perusahaan tersebut sebelumnya telah menunjukkan ambisi untuk memperluas pangsa pasar globalnya, termasuk di Amerika Utara. Larangan ini dapat memaksa Unitree untuk memfokuskan kembali strategi ekspansinya ke pasar lain seperti Eropa, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Kebijakan ini juga berpotensi memicu respons balasan dari pemerintah China, yang dapat memberlakukan pembatasan serupa terhadap produk robotik atau komponen elektronik buatan AS.
Eskalasi lebih lanjut dalam perang dagang teknologi ini dapat mengganggu rantai pasok global untuk komponen robotik dan memperlambat adopsi robot humanoid secara komersial di berbagai industri. Larangan impor ini mulai berlaku efektif sejak pengumuman pada Selasa, 28 Juli 2026. Perusahaan yang terkena dampak diharapkan mematuhi kebijakan baru ini, dan FCC akan melakukan pengawasan terhadap kepatuhan importir. Pelanggaran terhadap larangan ini dapat mengakibatkan sanksi administratif dan pidana sesuai dengan peraturan yang berlaku.