AI
AirTag Tersembunyi Ungkap Amazon Musnahkan Buku Langka untuk Latih AI
Sebuah AirTag tersembunyi mengungkap Amazon menghancurkan buku langka untuk melatih model AI, memicu kontroversi etika dan hukum.
Oleh Tim Editorial

Sebuah laporan dari Ars Technica mengungkap bahwa Amazon terlibat dalam praktik menghancurkan buku buku langka untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Temuan ini muncul setelah seorang peneliti menyembunyikan perangkat pelacak AirTag di dalam sebuah buku langka yang dipinjamkan ke Amazon, yang kemudian melacak pergerakan buku tersebut hingga ke fasilitas penghancuran. Praktik ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang bagaimana perusahaan teknologi memperlakukan warisan budaya dan kekayaan intelektual dalam perlombaan mengembangkan AI. Menurut laporan tersebut, tim yang bertanggung jawab atas pengumpulan data pelatihan AI di Amazon menggunakan logo yang menggambarkan Tyrannosaurus rex (T. rex) yang siap melahap sebuah buku.
Logo ini, menurut sumber internal, secara simbolis mewakili pendekatan agresif perusahaan terhadap pengumpulan data, di mana buku buku fisik yang dianggap tidak lagi dibutuhkan oleh perpustakaan atau kolektor dihancurkan untuk diubah menjadi data digital. Praktik ini dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik buku, yang hanya mengetahui nasib koleksinya setelah AirTag tersebut mengirimkan sinyal lokasi. Kronologi kejadian dimulai ketika seorang kolektor buku langka, yang tidak disebutkan namanya, meminjamkan sejumlah buku kepada Amazon untuk tujuan digitalisasi. Buku buku tersebut, yang mencakup edisi pertama dan manuskrip bersejarah, dijanjikan akan dikembalikan setelah proses pemindaian selesai. Namun, kolektor tersebut menaruh curiga setelah salah satu buku yang paling berharga tidak kunjung kembali. Untuk memastikan, ia menyembunyikan sebuah AirTag di dalam sampul buku tersebut.
Setelah beberapa minggu, sinyal AirTag menunjukkan buku itu berada di sebuah fasilitas pengolahan limbah milik Amazon di luar kota, yang kemudian dikonfirmasi sebagai lokasi penghancuran. Amazon belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. Namun, sumber internal yang dikutip oleh Ars Technica mengakui bahwa praktik penghancuran buku memang terjadi, dengan alasan bahwa beberapa buku yang dipinjamkan dalam kondisi rusak atau tidak layak untuk dikembalikan. Mereka juga menyebutkan bahwa proses digitalisasi sering kali merusak buku secara fisik, sehingga perusahaan memilih untuk menghancurkannya daripada mengembalikan dalam kondisi buruk. Klaim ini bertentangan dengan kesaksian kolektor yang menyatakan bahwa buku buku yang dipinjamkan dalam kondisi prima. Praktik ini memicu perdebatan di kalangan akademisi dan pegiat literasi.
Seorang profesor ilmu perpustakaan di Universitas California, Berkeley, yang diwawancarai dalam laporan tersebut, menyebut tindakan ini sebagai "penghancuran warisan budaya yang tidak dapat dibenarkan". Ia menambahkan bahwa buku buku langka memiliki nilai sejarah dan kultural yang tidak dapat digantikan oleh data digital, dan bahwa perusahaan teknologi seharusnya bekerja sama dengan perpustakaan untuk melestarikan, bukan menghancurkan, koleksi tersebut. Sementara itu, seorang pengacara hak kekayaan intelektual yang dihubungi Ars Technica menyatakan bahwa tindakan ini dapat melanggar hukum jika terbukti bahwa Amazon tidak memiliki izin untuk menghancurkan buku buku tersebut. Dampak industri dari temuan ini cukup signifikan. Amazon, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan AI melalui layanan cloud AWS dan model bahasa besar internal, kini menghadapi risiko reputasi yang serius.
Jika praktik ini menjadi perhatian publik luas, perusahaan dapat kehilangan kepercayaan dari kolektor, perpustakaan, dan institusi akademik yang selama ini menjadi mitra dalam proyek digitalisasi. Selain itu, kasus ini dapat memicu regulasi baru yang lebih ketat tentang bagaimana perusahaan teknologi memperlakukan materi fisik dalam proses pengumpulan data AI. Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menyoroti dilema etika dalam pengembangan AI. Model AI modern, seperti GPT 4 dan Claude, membutuhkan data dalam jumlah besar untuk dilatih, dan perusahaan sering kali mencari sumber data yang belum dieksplorasi, termasuk buku buku langka yang tidak tersedia secara digital. Namun, cara pengumpulan data ini sering kali mengabaikan hak cipta dan nilai kultural dari materi tersebut. Kasus Amazon ini menjadi contoh nyata bagaimana perlombaan AI dapat mengorbankan aset budaya demi kemajuan teknologi.
Sementara itu, reaksi dari komunitas teknologi beragam. Beberapa pihak mendukung Amazon dengan alasan bahwa digitalisasi buku adalah langkah penting untuk melestarikan pengetahuan, dan bahwa penghancuran fisik adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan dari proses tersebut. Namun, mayoritas suara mengecam praktik ini, terutama karena Amazon tidak transparan tentang nasib buku buku yang dipinjamkan. Sebuah petisi online yang dibuat oleh sekelompok pustakawan telah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan dalam 24 jam, menuntut Amazon untuk menghentikan praktik penghancuran dan mengungkapkan daftar lengkap buku yang telah dimusnahkan. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Amazon mengenai langkah selanjutnya. Namun, laporan Ars Technica menyebutkan bahwa perusahaan sedang melakukan audit internal terhadap proses pengumpulan data AI, dan kemungkinan akan mengubah kebijakan terkait penanganan buku fisik.
Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Amazon telah menghubungi sejumlah kolektor yang bukunya teridentifikasi untuk menawarkan kompensasi, meskipun detail kompensasi tersebut belum diungkapkan. Kasus ini juga berpotensi memengaruhi cara perusahaan teknologi lain mengumpulkan data pelatihan AI. Jika Amazon menghadapi tuntutan hukum atau sanksi regulasi, perusahaan lain yang menggunakan metode serupa mungkin akan lebih berhati hati dalam memperlakukan materi fisik. Beberapa perusahaan AI besar, seperti OpenAI dan Google, telah menyatakan bahwa mereka hanya menggunakan data yang tersedia secara publik atau berlisensi, tetapi kasus ini menunjukkan bahwa praktik di lapangan bisa jauh berbeda dari pernyataan resmi. Di sisi lain, kasus ini juga membuka diskusi tentang perlunya regulasi yang lebih jelas tentang penggunaan data fisik untuk pelatihan AI.
Saat ini, tidak ada aturan khusus yang mengatur bagaimana perusahaan teknologi dapat memperlakukan buku fisik yang dipinjamkan untuk digitalisasi. Para ahli hukum yang diwawancarai dalam laporan tersebut menyarankan agar dibuat standar baru yang mewajibkan perusahaan untuk mendapatkan izin tertulis sebelum menghancurkan materi apa pun, serta memberikan kompensasi yang layak jika kerusakan terjadi. Sementara itu, kolektor buku langka yang menjadi korban dalam kasus ini menyatakan akan mengambil langkah hukum jika Amazon tidak memberikan penjelasan yang memuaskan. Ia juga berencana untuk membagikan bukti pelacakan AirTag tersebut kepada media lain untuk memastikan kasus ini tidak ditutup tutupi. Dengan semakin banyaknya perhatian publik, tekanan pada Amazon untuk bertindak transparan akan semakin besar. Kasus ini juga menyoroti pentingnya teknologi pelacakan seperti AirTag dalam mengungkap praktik bisnis yang tidak etis.
Meskipun AirTag dirancang untuk tujuan pelacakan barang pribadi, penggunaannya dalam kasus ini menunjukkan bagaimana teknologi konsumen dapat digunakan sebagai alat pengawasan terhadap korporasi. Ini juga menimbulkan pertanyaan tentang batas batas privasi, baik bagi individu maupun perusahaan. Ke depannya, kasus ini dapat menjadi preseden penting dalam hubungan antara perusahaan teknologi dan warisan budaya. Jika Amazon terbukti bersalah, perusahaan tersebut mungkin harus membayar denda yang besar dan mengubah kebijakan pengumpulan data secara fundamental. Namun, jika tidak ada tindakan hukum, kasus ini bisa menjadi contoh bahwa perusahaan teknologi dapat bertindak sewenang wenang tanpa konsekuensi, yang akan menjadi pukulan bagi upaya pelestarian buku langka di seluruh dunia. Seiring berjalannya waktu, publik akan menunggu respons resmi dari Amazon dan langkah langkah yang diambil oleh regulator.
Yang jelas, kasus ini telah membuka mata banyak pihak tentang sisi gelap dari perlombaan AI, di mana kecepatan pengembangan sering kali mengorbankan nilai nilai etika dan kultural. Bagi Amazon, ini adalah ujian besar untuk menunjukkan apakah perusahaan tersebut dapat bertanggung jawab atas dampak dari teknologi yang mereka kembangkan.